MAKASSAR – Sejumlah mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia resmi dikukuhkan sebagai alumni dalam prosesi yudisium yang berlangsung khidmat pada Sabtu (21/2/2026).
Pengukuhan gelar sarjana ini menjadi momentum penting bagi para lulusan sebelum melangkah ke dunia profesional.
Prosesi pengukuhan dipimpin langsung oleh Dekan FEB ITB Nobel Indonesia, Dr. H. Muhammad Idris, S.E., M.Si. Acara tersebut turut disaksikan oleh jajaran pimpinan fakultas, mulai dari Wakil Dekan I Bidang Akademik Karlina Ghazalah Rahman, S.E., M.Ak., Wakil Dekan II Bidang Promosi Dr. H. Yuswari Nur, S.E., M.Si., hingga Ketua Program Studi Manajemen, Muthi Syahidah Arifuddin, S.S., M.Hum.
Dalam sambutannya, Dr. Muhammad Idris menyampaikan apresiasi mendalam atas perjuangan para mahasiswa yang telah berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian akademik. “Hari ini saya mengucapkan selamat dan sukses pada anandaku, sehingga pada hari ini saudara berhak menyandang gelar Sarjana Manajemen (S.M.). Tentu untuk sampai di titik ini semua membutuhkan proses dan perjuangan, mulai proses kuliah, magang, KKN, skripsi, dan akhirnya sampai hari ini,” ujar Idris di hadapan para peserta yudisium.
Lebih lanjut, ia mengingatkan para lulusan bahwa yudisium bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari fase tantangan baru di tengah masyarakat. Menurutnya, para alumni kini memegang tanggung jawab besar untuk membuktikan kualitas ilmu yang telah didapatkan di bangku kuliah. Ia berharap para lulusan dapat menjadi duta almamater yang mampu menunjukkan potensi, kemampuan akademik, serta perilaku yang baik di mana pun mereka berada.
“Perjalanan ini bukan akhir, tapi justru Anda akan memasuki fase baru sebuah tantangan yang harus dibuktikan dengan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah. Tunjukkan pada masyarakat di mana pun berada dan jadilah duta ITB Nobel. Tunjukkan kalian punya prestasi, potensi, kemampuan akademik, dan perilaku baik,” sambungnya.
Dr. Muhammad Idris juga menitipkan pesan khusus mengenai pentingnya menjaga nama baik almamater di lingkungan pekerjaan. Ia menekankan bahwa ujian sesungguhnya bagi seorang sarjana adalah ketika berada di tengah masyarakat, di mana kemampuan intelektual harus dibarengi dengan nilai personal atau value yang kuat.
“Jika di kampus itu diuji oleh kami para dosen dan pengelola, di luar nanti kalian akan diuji oleh masyarakat. Seberapa pun kemampuan Anda, kalian harus punya value, nilai personal yang bisa diandalkan. Jadilah contoh dan kebanggaan bahwa Anda punya kapasitas, integritas, dan bisa diandalkan, apalagi sekarang era digital kemampuan penguasaan IT atau teknologi sangat diperlukan,” tutupnya.






